PM INGGRIS KE BEIJING! BUKA ERA BARU HUBUNGAN DINGIN? - Berita Dunia
← Kembali

PM INGGRIS KE BEIJING! BUKA ERA BARU HUBUNGAN DINGIN?

Foto Berita

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, baru saja menggebrak panggung diplomasi dengan kunjungan bersejarah ke Beijing. Ini bukan sembarang kunjungan; ia menandai pertama kalinya seorang PM Inggris menjejakkan kaki di tanah Tiongkok setelah delapan tahun hubungan beku. Tujuannya jelas: mencairkan ketegangan dan membuka lembaran baru kemitraan strategis yang disebut Starmer sebagai hubungan "matang" dengan raksasa ekonomi dunia itu.

Selama pertemuan pentingnya dengan Presiden Xi Jinping di Great Hall of the People, Kamis lalu, Starmer menekankan perlunya menemukan peluang kolaborasi, sambil tetap membuka ruang dialog jujur untuk isu-isu yang mereka tidak sepakati. Kunjungan tiga hari ini tak sendiri, PM Starmer ditemani delegasi bisnis dan budaya raksasa, meliputi hampir 50 perusahaan top Inggris seperti HSBC, British Airways, AstraZeneca, dan GSK. Ini sinyal kuat bahwa Inggris serius menggenjot kerja sama ekonomi dan keamanan dengan Tiongkok, yang notabene adalah mitra dagang keempat terbesar Inggris dengan nilai $137 miliar di tahun 2025.

Salah satu agenda krusial adalah pembahasan kerja sama penegakan hukum untuk menekan perdagangan imigran ilegal ke Inggris oleh geng kriminal. Langkah ini menunjukkan pragmatisme London, yang meski menghadapi kritik domestik soal catatan hak asasi manusia Tiongkok dan kekhawatiran keamanan, tetap memilih untuk berdialog demi kepentingan nasional.

Hubungan kedua negara memang sempat membeku pasca penindasan politik Beijing di Hong Kong dan kasus-kasus seperti penahanan Jimmy Lai, taipan media pro-demokrasi berkewarganegaraan Inggris. Namun, kunjungan Starmer ini bisa jadi upaya strategis Inggris untuk menavigasi kompleksitas geopolitik, terutama di tengah ketegangan hubungan Tiongkok dan Inggris dengan Amerika Serikat akibat perang tarif era Donald Trump. Kunjungan ini bukan sekadar pertemuan biasa. Ini adalah manuver diplomatik penting dari Inggris untuk menyeimbangkan kepentingan ekonominya dengan Tiongkok, tanpa mengabaikan isu-isu sensitif. Bagi masyarakat, ini bisa berarti peluang ekonomi baru dan stabilitas regional, namun juga memicu debat etika mengenai kompromi nilai-nilai demi keuntungan pragmatis. Langkah Starmer ini juga bisa dilihat sebagai sinyal kepada dunia bahwa pragmatisme ekonomi mungkin lebih diutamakan di panggung global yang semakin kompleks.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook