Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih! Amerika Serikat dan Israel dilaporkan melancarkan serangan udara besar-besaran ke sejumlah kota di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Tak tinggal diam, Iran membalas dengan rudal ke Israel utara. Serangan gabungan ini disebut Presiden AS Donald Trump sebagai "operasi tempur besar", memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan.
Serangan mendadak oleh koalisi AS-Israel ini menyasar berbagai lokasi strategis di Iran. Dari laporan yang ada, rudal-rudal menghantam University Street dan area Jomhouri di Teheran, tak jauh dari markas Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan kantor Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Kota-kota lain seperti Kermanshah, Qom, Tabriz, Isfahan, Ilam, Karaj, hingga provinsi Lorestan juga dilaporkan menjadi sasaran.
Menurut pejabat AS, serangan ini adalah operasi militer gabungan, setelah AS mengerahkan armada besar jet tempur dan kapal perang ke wilayah tersebut – mobilisasi militer terbesar AS di kawasan sejak perang Irak. Ini terjadi di tengah alotnya negosiasi antara AS dan Iran terkait program nuklir dan rudal balistik Teheran, serta delapan bulan setelah kedua belah pihak terlibat perang 12 hari sebelumnya.
Presiden Trump menegaskan tujuan serangan ini adalah untuk "menghancurkan rudal dan meratakan industri rudal mereka", bahkan mengancam akan "melenyapkan angkatan laut" Iran. Ia juga bertekad memastikan kelompok "proksi" Iran seperti Hamas, Hizbullah, dan Houthi tak lagi mampu mendestabilisasi kawasan. Trump berulang kali menyatakan tidak akan membiarkan Iran mengembangkan senjata nuklir, meski Teheran selalu membantah memiliki niat tersebut. Sumber Reuters menyebutkan, AS berencana untuk melakukan "operasi multihari".
Analisis Dampak:
Eskalasi militer besar ini sontak memicu kekhawatiran global. Jika benar AS berencana operasi multihari, artinya ini bukan sekadar serangan balasan, melainkan upaya sistematis untuk melumpuhkan kapasitas militer Iran. Potensi perang terbuka di Timur Tengah semakin nyata, yang tentu akan berdampak besar pada stabilitas regional dan pasar global, terutama harga minyak. Sejumlah pengamat khawatir, langkah ini bisa menjadi awal "revolusi" di Iran yang mirip dengan campur tangan CIA 73 tahun lalu. Tanpa penyelesaian diplomatik, konflik ini berisiko melibatkan kekuatan regional lainnya dan memicu krisis kemanusiaan yang lebih parah. Informasi mengenai korban jiwa dan kerusakan masih sangat minim, namun situasi di lapangan diperkirakan sangat tegang.