Gelombang kekerasan di perbatasan Pakistan dan Afghanistan semakin memanas, bahkan Pakistan secara terbuka menyebut konflik ini sebagai "perang terbuka". Insiden terbaru yang menggegerkan adalah serangan drone yang dilaporkan menghantam sebuah masjid di kota Bannu, dekat perbatasan, dan melukai setidaknya lima orang.
Kekerasan lintas batas ini kini memasuki hari ketiga, menjadikannya eskalasi paling serius dalam beberapa bulan terakhir. Komunitas internasional, termasuk kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Kaja Kallas, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, serta Iran, Yordania, Uni Emirat Arab, dan Rusia, serentak menyerukan de-eskalasi dan mediasi. Mereka khawatir, konflik ini bisa memicu instabilitas yang lebih luas di kawasan.
Penguasa Taliban di Afghanistan sebenarnya menyatakan diri terbuka untuk bernegosiasi guna mengakhiri konflik. Namun, Pakistan justru menolak tegas setiap bentuk dialog. "Tidak akan ada pembicaraan. Tidak ada dialog. Tidak ada negosiasi. Terorisme dari Afghanistan harus berakhir," tegas Mosharraf Zaidi, juru bicara Perdana Menteri Pakistan untuk media asing. Ini adalah tuntutan lama Pakistan agar Afghanistan berhenti melindungi kelompok teroris, tuduhan yang selalu dibantah Kabul.
Serangan balasan terjadi di sepanjang perbatasan yang tegang. Media Afghanistan melaporkan pasukan Taliban melancarkan serangan drone ke kamp-kamp militer Pakistan di Miranshah dan Spinwam. Sementara itu, surat kabar Dawn Pakistan mengkonfirmasi serangan drone yang menghantam masjid di Bannu. Pakistan Television juga melaporkan bahwa pasukan Pakistan melakukan serangan balasan, menargetkan beberapa posisi Taliban Afghanistan.
Ketegangan terbaru ini berawal dari serangan udara Pakistan ke wilayah Afghanistan akhir pekan lalu, yang kemudian dibalas oleh serangan Afghanistan ke enam distrik di Pakistan pada Kamis. Sebagai respons, Pakistan menggelar serangan udara besar-besaran pada Jumat dini hari di ibu kota Afghanistan, serta Kandahar dan Paktia. Ini adalah serangan udara pertama Pakistan ke basis kekuatan selatan otoritas Taliban sejak mereka kembali berkuasa pada 2021.
Kedua belah pihak melaporkan kerugian besar dengan angka korban yang saling bertentangan. Pakistan mengklaim 12 tentaranya dan 274 anggota Taliban tewas, sementara Taliban menyebut 13 pejuangnya dan 55 tentara Pakistan gugur. Namun, klaim-klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Amerika Serikat, sekutu utama non-NATO Pakistan, menyatakan dukungannya terhadap hak Pakistan untuk "mempertahankan diri dari serangan Taliban." Konflik ini juga menjadi sorotan mengingat Pakistan sendiri telah mengalami peningkatan tajam kekerasan di dalam negeri, termasuk bom bunuh diri dan serangan terkoordinasi terhadap pasukan keamanan. Otoritas Pakistan menyalahkan Taliban Pakistan (TTP) atas banyak serangan tersebut dan menuduh Afghanistan melindungi kelompok ini di dalam wilayahnya. Tuduhan yang, lagi-lagi, dibantah keras oleh Kabul, yang bersikeras tidak mengizinkan wilayahnya digunakan untuk menyerang negara lain.