Situasi di Timur Tengah makin memanas setelah Teheran mengeluarkan peringatan keras. Iran menyatakan tak akan menahan diri sedikit pun jika fasilitas energinya kembali menjadi sasaran serangan. Peringatan ini muncul sehari setelah Israel melancarkan serangan ke ladang gas South Pars, yang kemudian dibalas Iran dengan menyerang sejumlah lokasi energi di kawasan Teluk.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sendiri tak menampik kemungkinan bahwa konflik yang terjadi bisa meluas hingga melibatkan komponen darat. Sinyal ini tentu saja menambah kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih parah.
Dari sisi diplomatik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat memicu kontroversi. Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, Trump mengungkit pengeboman Pearl Harbor pada 1941 saat membela serangan mendadak yang dilakukan Israel terhadap Iran. Pernyataan ini menuai sorotan tajam dan menambah ketegangan.
Dampak langsung dari memanasnya konflik ini sudah terasa di pasar global. Kekhawatiran akan gangguan pasokan energi mendorong harga minyak dan gas dunia merangkak naik tajam. Lonjakan harga yang signifikan sudah dilaporkan di Inggris dan berbagai negara di Eropa. Kenaikan harga energi ini tentu berpotensi memicu efek domino, mengerek biaya hidup dan produksi di berbagai negara, termasuk di Indonesia, meski tak disebut langsung, dampak global pasti akan terasa pada inflasi dan daya beli masyarakat.