Gaza kini diselimuti realitas pahit, di mana para profesional terdidik dan terampil terpaksa 'banting setir' total dari bidang keahlian mereka. Perang dan kehancuran massal telah melahirkan 'ekonomi bertahan hidup' yang memaksa mereka menciptakan pekerjaan dadakan demi sekadar menyambung hidup.
Salah satu kisah yang menjadi potret buram adalah Abdulrahman al-Awadi. Pemuda 25 tahun lulusan seni rupa Universitas Al-Aqsa ini, sebelum perang, meniti karier sebagai seniman dan desainer grafis. Ia punya impian menggelar pameran dan berkarya. Namun, semua itu kini hanya tinggal kenangan. “Dulu saya berkarya seni, sekarang berdiri di belakang tenda kecil ini, jadi tempat charging ponsel,” ujarnya kepada Al Jazeera, sambil menunjuk stasiun pengisian daya bertenaga surya darurat yang ia dirikan di pasar Remal, Kota Gaza.
Perang merenggut segalanya dari Abdulrahman. Ia dan keluarganya sempat mengungsi ke Gaza selatan, dan saat kembali ke rumahnya di Kota Gaza, semua karya seni dan peralatan lukisnya telah musnah. Kamarnya pun kini jadi tempat penampungan kerabat yang mengungsi. “Semuanya hangus, hancur lebur terkena bom di dekat rumah kami. Alat-alat saya, warna-warna saya, studio saya… semuanya hilang,” kenangnya pilu.
Tanpa pilihan, Abdulrahman terpaksa beradaptasi. Pekerjaan barunya sederhana: mengisi daya ponsel orang lain dengan tarif satu atau dua shekel (sekitar Rp5.000-Rp10.000). Namun, mencari uang tunai pun bukan hal mudah di Gaza yang likuiditasnya sangat minim. Kondisi ini bukan hanya dialami Abdulrahman. Peneliti ekonomi Rami al-Zaygh menyebut, pergeseran profesi ini adalah cerminan meluasnya 'ekonomi bertahan hidup' di Gaza. Kehancuran infrastruktur, pengungsian, dan lumpuhnya layanan dasar telah memaksa banyak lulusan terampil lainnya juga mencari nafkah lewat pekerjaan improvisasi, mulai dari menjual makanan dan air, hingga menyediakan layanan esensial lainnya.
Realitas ini menunjukkan betapa parahnya krisis kemanusiaan dan ekonomi di Gaza. Para profesional yang seharusnya berkarya di bidangnya, kini harus membuang keahlian mereka demi memenuhi kebutuhan dasar. Ini adalah pukulan telak tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi potensi pemulihan jangka panjang wilayah tersebut, karena masa depan dan bakat-bakat terbaiknya tergerus oleh kebutuhan mendesak untuk bertahan.