Pemilihan parlemen Denmark tengah berlangsung panas, dengan Perdana Menteri Mette Frederiksen dari Partai Sosial Demokrat berjuang meraih masa jabatan ketiganya. Sekitar 4,3 juta warga Denmark telah terdaftar untuk memberikan suaranya, dengan pemungutan suara yang dimulai pukul 08.00 pagi dan ditutup pukul 20.00 waktu setempat. Hasil awal diperkirakan akan terlihat pada malam hari untuk memperebutkan 179 kursi parlemen.
Momentum elektoral Frederiksen sebenarnya cukup kuat. Ia sempat mendapatkan lonjakan popularitas signifikan setelah secara lantang menolak proposal kontroversial Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, yang ingin membeli Greenland, sebuah wilayah semi-otonom milik Denmark. Sikap tegas ini tidak hanya mengukuhkan kedaulatan Denmark di mata dunia, tetapi juga memberikan Frederiksen modal politik yang besar di dalam negeri, membantunya menstabilkan dukungan yang sempat menurun. Tak heran, ia kemudian mengambil langkah berani dengan menggelar pemilihan umum sela bulan lalu.
Meski demikian, jalan Frederiksen tidak mulus. Survei justru menunjukkan bahwa Partai Sosial Demokratnya berpotensi menghadapi hasil terburuk dalam lebih dari satu abad. Ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpuasan pemilih terhadap pemotongan program sosial dan lonjakan biaya hidup. Isu-isu domestik seperti harga pangan dan bahan bakar, masa depan pertanian, ketersediaan air minum bersih, hingga standar kesejahteraan peternakan babi, jauh lebih mendominasi kampanye daripada polemik Greenland. Penantang utamanya adalah Menteri Pertahanan Troels Lund Poulsen dari partai Venstre yang beraliran kanan-tengah.
Analisis singkat menunjukkan, kasus Greenland ini adalah contoh menarik bagaimana kebijakan luar negeri, sekalipun tidak menjadi isu utama kampanye, bisa secara dramatis mempengaruhi persepsi publik terhadap seorang pemimpin. Keberanian Frederiksen menolak tekanan superpower AS menunjukkan kepemimpinan yang kuat dan menjaga martabat bangsa. Namun, dinamika politik tetap berpijak pada isu-isu 'dapur' rakyat. Ini menjadi pengingat bahwa meskipun seorang pemimpin bisa mendapatkan 'bonus' popularitas dari ketegasan di panggung internasional, tantangan sehari-hari masyarakat adalah penentu utama nasib politik di kotak suara.