Jakarta, 12 Juni 2026 – Piala Dunia 2026 yang digelar bersama oleh Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, yang seharusnya menjadi simbol persatuan benua, justru memicu kritik tajam. Alih-alih merayakan kebersamaan, turnamen ini dinilai memperlihatkan kemunafikan dan kekerasan dari kebijakan imigrasi AS yang sangat ketat.
Sejak awal, konsep tuan rumah bersama ini terasa janggal. Pasalnya, AS menerapkan sistem visa yang super ketat dan larangan perjalanan (travel ban) bagi warga negara tertentu. Hal ini membuat ajang yang sudah mahal ini semakin eksklusif dan menghancurkan ilusi persahabatan internasional yang seharusnya dijunjung tinggi Piala Dunia.
Kritik juga datang dari perbatasan AS-Meksiko yang sangat dimiliterisasi. Presiden AS Donald Trump, yang dikenal dengan retorika kerasnya, pernah menyebut warga Meksiko sebagai kriminal, pengedar narkoba, dan pemerkosa. Bahkan, laporan New York Times tahun 2019 mengungkapkan Trump sempat menyarankan tentara AS menembak imigran dan memasang parit berisi buaya di perbatasan.
Di sisi lain, keputusan Meksiko ikut menjadi tuan rumah turnamen yang sangat mahal ini dianggap sebagai tamparan bagi rakyatnya. Banyak yang menilai dana tersebut lebih baik digunakan untuk melacak lebih dari 134.000 orang hilang di negara itu, yang sebagian besar terjadi akibat perang narkoba yang didukung AS sejak 2006.
FIFA, yang punya sejarah panjang korupsi, juga tak luput dari sorotan. Presiden FIFA Gianni Infantino baru saja memberikan 'FIFA Peace Prize' yang dibuat-buat kepada Donald Trump, hanya untuk membujuknya agar tidak marah karena gagal meraih Nobel Perdamaian 2025. Ironisnya, di tengah semua ini, seorang pemuda Meksiko harus membayar $10.000 ke penyelundup manusia (coyote) untuk memanjat pagar perbatasan, sementara penggemar sepakbola lain membayar jumlah yang sama untuk tiket pertandingan.
Dampak bagi Masyarakat: Situasi ini menunjukkan kesenjangan ekstrem antara kemewahan olahraga global dengan realitas pahit imigrasi dan kekerasan di kawasan Amerika Utara. Bagi publik Indonesia, ini menjadi pelajaran bahwa Piala Dunia bukan sekadar pesta olahraga, tetapi juga panggung politik dan ekonomi yang bisa memicu kontroversi.