KRISIS KESEHATAN YAMAN KIAN PARAH, PASIEN MERANA - Berita Dunia
← Kembali

KRISIS KESEHATAN YAMAN KIAN PARAH, PASIEN MERANA

Foto Berita

Bayangkan, Anda sakit parah, tapi rumah sakit tak punya alat, bandara ditutup, dan bantuan dana pun dipangkas. Itulah kenyataan pahit yang dihadapi ribuan warga Yaman, termasuk Hadeel Abdullah, yang kini terperangkap antara penyakit yang tak terdiagnosis dan sulitnya akses pengobatan yang layak di tengah konflik berkepanjangan.

Hadeel, mahasiswi berusia 23 tahun dari Sanaa, telah berjuang dengan sakit perut kronis selama setahun terakhir. Meskipun sudah bolak-balik ke dokter dan menjalani berbagai tes, ia belum juga menemukan diagnosis maupun obat yang tepat. "Saya sudah lelah, baik fisik maupun finansial," keluhnya. Hadeel pun berharap bisa berobat ke luar negeri, namun niatnya terhalang oleh bandara Sanaa yang sering menjadi sasaran serangan dan pembatasan penerbangan komersial.

Kisah Hadeel bukan satu-satunya. Ribuan pasien lain di Yaman utara, yang dikendalikan oleh pemberontak Houthi, menghadapi dilema serupa. Mereka terperangkap di tengah sektor kesehatan yang lumpuh, dengan fasilitas medis yang minim, peralatan kedaluwarsa, dan kesulitan mengakses pengobatan di luar negeri. Bahkan, banyak yang tak mampu bertahan dan meninggal dunia sebelum sempat mendapat pertolongan.

Situasi ini diperparah dengan peringatan dari pejabat PBB. Koordinator Residen dan Kemanusiaan PBB di Yaman, Julien Harneis, pada 19 Januari lalu menyatakan bahwa sistem kesehatan di Yaman tidak akan lagi mendapat dukungan seperti sebelumnya, menandakan pemangkasan dana bantuan yang signifikan. Sementara itu, Direktur Regional WHO, Dr. Hanan Balkhy, menyoroti bahwa krisis di Yaman, khususnya di wilayah utara, sering luput dari perhatian dunia, padahal jutaan jiwa berisiko tanpa bantuan kemanusiaan dan layanan kesehatan darurat.

Krisis kesehatan di Yaman ini bukan hanya sekadar masalah medis, tetapi juga cerminan dampak mengerikan dari konflik bertahun-tahun. Pembatasan akses, infrastruktur yang hancur, dan berkurangnya perhatian global telah menciptakan lingkaran setan penderitaan bagi jutaan warga sipil yang tak berdaya.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook