La Linea de la Concepcion, Spanyol - Rencana pertandingan persahabatan antara Timnas Republik Demokratik Kongo (DRC) melawan Chile menjelang Piala Dunia 2026 mendadak batal. Wali Kota La Linea de la Concepcion, Juan Franco, secara resmi mengeluarkan dekret larangan menggelar laga yang dijadwalkan pada 9 Juni tersebut.
Franco beralasan larangan ini sebagai langkah pencegahan (precautionary measure) atas kekhawatiran penyebaran virus Ebola yang tengah mewabah di Kongo. Keputusan ini diambil mengikuti rekomendasi dari dinas kesehatan pemerintah regional Andalusia.
Menanggapi hal ini, pelatih kepala DRC, Sebastien Desabre, buka suara. Pria asal Prancis berusia 49 tahun itu mengaku tak menyerah dan menawarkan opsi alternatif, yaitu menggelar pertandingan secara tertutup (behind closed doors) tanpa penonton.
“Ada stadion lain. Ada opsi bermain di balik pintu tertutup. Ada beberapa kemungkinan. Kami terbiasa beradaptasi,” ujar Desabre di tengah persiapan timnya menghadapi Denmark di Belgia.
Wabah demam berdarah Ebola yang sangat menular ini diumumkan terjadi di wilayah timur Kongo pada pertengahan Mei lalu. Situasi ini memaksa DRC membatalkan rencana pemusatan latihan di kandang sendiri dan memilih markas sementara di Belgia. Desabre menegaskan timnya sudah mengikuti semua protokol medis ketat dari FIFA dan para pemain yang mayoritas berkarier di Eropa dalam kondisi sehat.
Sebagai informasi tambahan, otoritas Amerika Serikat sebelumnya sudah mewajibkan skuad DRC untuk menjalani karantina 21 hari sebelum diizinkan masuk ke AS untuk berlaga di Piala Dunia 2026 yang akan digelar di AS, Kanada, dan Meksiko. DRC tergabung di Grup K dan akan berhadapan dengan Portugal pada laga perdana 17 Juni di Houston, Texas.
Analisis Dampak: Keputusan ini menyoroti betapa rentannya jadwal olahraga internasional terhadap isu kesehatan global. Selain mengganggu persiapan mental dan taktik tim, larangan ini juga berpotensi merugikan secara finansial bagi promotor dan tuan rumah. Lebih jauh lagi, keputusan karantina dari AS menunjukkan bahwa stigma terhadap negara yang terkena wabah masih kuat, meskipun tim DRC sudah tidak berada di zona wabah dan telah menjalani protokol kesehatan ketat di Eropa.