Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini melontarkan kritikan pedas kepada negara-negara sekutunya. Ia menyayangkan keengganan para sekutu untuk mengerahkan kekuatan demi mengamankan jalur perairan vital ekspor minyak dari Teluk. Dengan nada tegas, Trump mengingatkan bahwa AS sudah 40 tahun memikul beban melindungi mereka, dan kini saatnya bagi para sekutu untuk ikut ambil bagian.
Kritikan ini datang di tengah meningkatnya ketegangan global terkait keamanan jalur pelayaran internasional, terutama di Selat Hormuz. Jalur ini bukan sekadar rute biasa; ia adalah urat nadi pasokan minyak dunia, di mana sekitar sepertiga minyak mentah global mengalir melewatinya setiap hari. Terganggunya keamanan di Selat Hormuz berpotensi besar memicu gejolak harga minyak dunia dan mengancam stabilitas ekonomi global.
Pengamat menilai, pernyataan Trump ini lebih dari sekadar keluhan. Ini adalah sinyal kuat agar sekutu AS, khususnya negara-negara di Eropa dan Asia yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari Teluk, untuk lebih proaktif dalam menjaga keamanan maritim. Selama ini, AS memang sering dianggap memikul beban terbesar dalam menjaga stabilitas keamanan di berbagai kawasan strategis dunia. Jika sekutu tak kunjung bergerak, bukan tidak mungkin AS akan mengurangi perannya atau bahkan membebankan biaya pengamanan kepada negara-negara yang diuntungkan. Hal ini tentu berpotensi menciptakan ketegangan diplomatik baru dan menguji soliditas aliansi jangka panjang yang telah terjalin.