Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) akhirnya memutuskan untuk tidak memboikot gelaran Piala Dunia FIFA 2026 mendatang. Keputusan ini muncul setelah sebelumnya wacana boikot sempat mencuat kencang, bahkan dibahas di tingkat komite eksekutif DFB.
Awalnya, wakil presiden DFB, Oke Gottlich, yang juga presiden klub Bundesliga St. Pauli, mengusulkan agar Jerman mempertimbangkan serius boikot ini. Alasan di balik seruan tersebut adalah berbagai kebijakan dan pernyataan kontroversial Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump. Kebijakan Trump yang memicu ketegangan di Eropa, seperti upaya akuisisi Greenland, ancaman tarif terhadap negara-negara Eropa, hingga penanganan protes di kota-kota Amerika dan aksi di Venezuela, dinilai perlu ditanggapi serius.
Namun, setelah melalui perdebatan internal, DFB menegaskan kembali komitmennya terhadap kekuatan pemersatu olahraga. Dalam pernyataannya, DFB mengungkapkan keyakinannya pada dampak global Piala Dunia FIFA dan menegaskan bahwa tujuan mereka adalah memperkuat dampak positif ini, bukan menghalanginya. Federasi juga mengisyaratkan bahwa perdebatan kebijakan olahraga sebaiknya dilakukan secara internal, bukan di publik, seolah memberikan teguran halus kepada Gottlich.
Keputusan DFB ini tentu saja meredakan ketegangan politik yang sempat menyelimuti persiapan Piala Dunia yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini. Padahal, kekhawatiran juga datang dari mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, yang sempat menyarankan penggemar untuk tidak menghadiri turnamen. Blatter sendiri, saat menjabat, pernah menentang boikot Piala Dunia 2018 di Rusia meski ada kekhawatiran terkait Ukraina, dengan mengatakan 'sepak bola tidak bisa diboikot di negara mana pun'.
Selain isu politik, kekhawatiran lain juga muncul dari kalangan penggemar, seperti harga tiket yang mahal dan kemungkinan pembatasan perjalanan oleh pemerintahan AS yang dapat menghambat suporter dari beberapa negara peserta. Dengan keputusan ini, tim nasional Jerman dipastikan akan berlaga dan berkompetisi secara sportif, seraya berharap seluruh penggemar di dunia dapat merayakan festival sepak bola yang damai, seperti yang mereka alami di Piala Eropa 2024 di negara sendiri.
Keputusan DFB ini menunjukkan dilema antara menyuarakan sikap politik dan menjaga semangat persatuan dalam olahraga. Ini menjadi sinyal penting bahwa, setidaknya untuk saat ini, arena sepak bola internasional akan tetap menjadi panggung bagi persaingan sportivitas, di tengah gejolak isu global yang terus berputar.