Warga Inggris yang bersuara membela Palestina kini menghadapi tekanan yang tak main-main. Sebuah laporan terbaru dari European Legal Support Center (ELSC) membongkar hampir seribu insiden dugaan penargetan, yang disebut sebagai 'upaya sistematis' untuk membungkam gerakan solidaritas di negara tersebut.
ELSC, menggandeng peneliti dari Forensic Architecture, berhasil memverifikasi 964 kasus 'represi anti-Palestina' yang data-datanya terkumpul mencakup periode Januari 2019 hingga Agustus 2025. Targetnya bervariasi: mahasiswa diinvestigasi karena solidaritasnya, aktivis ditangkap, karyawan menghadapi prosedur disipliner, bahkan seniman harus gigit jari karena acaranya dibatalkan.
Database publik bernama 'Index of Repression' ini diluncurkan ELSC untuk menunjukkan betapa luas dan meratanya penindasan terhadap gerakan solidaritas Palestina di Inggris. Amira Abdelhamid, Direktur Riset dan Pemantauan ELSC, kepada Al Jazeera menyebut penindasan ini meresap di seluruh sendi masyarakat.
Salah satu kasus yang terekam adalah mahasiswa Universitas Warwick yang dilaporkan ke polisi oleh kampusnya sendiri. Kesalahannya? Membawa spanduk yang membuat perbandingan antara Israel dan Nazi Jerman saat unjuk rasa kampus. Meski sempat ditangkap atas tuduhan 'agravasi rasial terhadap komunitas Yahudi' dan diselidiki universitas, berkat intervensi ELSC, polisi membatalkan peringatan dan menghapus catatan terkait. Universitas pun mengonfirmasi tidak ada tindakan disipliner lebih lanjut.
Kasus lain menimpa manajer perlengkapan klub sepak bola yang dipecat hanya karena postingan pandangannya tentang tindakan Israel di media sosial. Tak kalah miris, kasus Dana Abuqamar, mahasiswa University of Manchester, yang visanya dicabut oleh Kementerian Dalam Negeri Inggris. Ini terjadi setelah ia berkomentar di Sky News tentang blokade Gaza, meskipun kemudian ia klarifikasi komentarnya bukan dukungan untuk serangan 7 Oktober.
ELSC juga menuding kelompok advokasi 'Zionis' seperti UK Lawyers for Israel (UKLFI), serta beberapa jurnalis dan media, terlibat dalam 138 insiden. UKLFI sendiri disebut berperan dalam 29 kasus yang didokumentasikan. Mereka menyebut penargetan lintas sektor ini sebagai 'pembagian kerja represif'. Tujuannya jelas: membongkar solidaritas Palestina di setiap tahapan, mulai dari pembentukan kesadaran politik di kampus hingga ekspresinya dalam budaya dan organisasi di ruang publik.
Laporan ini bukan sekadar kumpulan insiden, melainkan gambaran pola yang jauh lebih luas dan dalam. Ini menyoroti ancaman serius terhadap kebebasan berekspresi dan hak untuk bersolidaritas di Inggris, sebuah negara yang kerap memposisikan diri sebagai pilar demokrasi. Pola penargetan ini menciptakan efek 'pendingin' (chilling effect) yang bisa membuat warga takut menyuarakan pendapat kritis, terutama terkait isu sensitif seperti konflik Palestina. Dampak personalnya bisa sangat menghancurkan, mulai dari karir yang terhambat, pendidikan terancam, hingga status keimigrasian yang dicabut. Jika pola ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin ruang bagi diskusi dan kritik yang sehat akan semakin menyempit, berpotensi mengikis nilai-nilai demokrasi dan pluralisme di masyarakat Inggris.