Pemerintah Iran membuat gebrakan kontroversial dengan melarang semua tim olahraganya bepergian ke negara-negara yang mereka anggap 'musuh'. Keputusan ini, yang diumumkan oleh Kementerian Olahraga Iran, bertujuan untuk menjamin 'keamanan' atlet, terutama setelah serangkaian 'serangan' yang diklaim Iran dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.
Larangan ini langsung berdampak pada klub sepak bola Tractor SC, yang seharusnya bertanding di Liga Champions Asia melawan Shabab Al Ahli dari Dubai, yang dijadwalkan di Arab Saudi bulan depan. Federasi Sepak Bola Iran kini diminta untuk berkoordinasi dengan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) agar pertandingan tersebut dipindahkan ke lokasi yang lebih aman. Ironisnya, AFC sendiri baru saja menjadwalkan ulang babak playoff zona barat di Jeddah, Arab Saudi, serta perempat final hingga final turnamen tersebut pada bulan April.
Tak hanya di Asia, keputusan ini juga memperkeruh situasi Iran di kancah global. Sebelumnya, Iran sudah berupaya keras untuk memindahkan tiga pertandingan babak grup Piala Dunia (yang akan digelar di Kanada, Meksiko, dan AS pada Juni-Juli) dari Amerika Serikat ke Meksiko, dengan alasan kekhawatiran keamanan dan 'serangan bersama' AS-Israel. Namun, Presiden FIFA Gianni Infantino telah menegaskan bahwa turnamen akan berjalan sesuai jadwal, menolak permintaan Iran.
Larangan perjalanan ini bukan sekadar urusan olahraga. Ini adalah cerminan langsung dari memanasnya tensi politik antara Iran dengan beberapa negara Barat dan Timur Tengah. Dampaknya sangat luas: penggemar olahraga akan kecewa, jadwal turnamen internasional bisa kacau balau, dan yang paling krusial, ada potensi sanksi dari federasi olahraga internasional jika Iran dianggap tidak profesional atau melanggar komitmen turnamen. Konflik politik yang menyeret olahraga seperti ini berisiko merugikan citra dan partisipasi atlet Iran di panggung dunia, bahkan bisa mengancam kesempatan mereka di ajang sepenting Piala Dunia.