Aksi protes menuntut diakhirinya blokade Amerika Serikat terhadap Kuba menggema di ibu kota Spanyol, Madrid, baru-baru ini. Ratusan demonstran berkumpul di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, menyuarakan kemarahan atas sanksi Washington yang disebut telah memicu krisis listrik parah hingga membuat Kuba mengalami pemadaman total (blackout).
Demonstrasi ini tidak hanya fokus pada Kuba, melainkan juga menyerukan agar AS mengakhiri campur tangan mereka di berbagai kawasan, terutama Amerika Latin dan Timur Tengah. Para pengunjuk rasa menekankan bahwa blokade yang telah berlangsung puluhan tahun ini telah menyebabkan penderitaan besar bagi rakyat Kuba.
Blokade ekonomi AS terhadap Kuba adalah kebijakan yang sangat kontroversial, telah diberlakukan sejak tahun 1960-an. Sanksi ini membatasi akses Kuba terhadap barang-barang esensial seperti makanan, obat-obatan, dan suku cadang untuk infrastruktur vital, termasuk sektor energi. Dampaknya, seperti yang terjadi baru-baru ini dengan pemadaman listrik massal, secara langsung mengganggu kehidupan sehari-hari jutaan warga Kuba dan memperparah kondisi ekonomi negara tersebut.
Situasi ini kerap memicu kritik internasional, termasuk dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang berulang kali menyerukan pencabutan blokade. Aksi protes di Madrid ini menunjukkan bahwa isu blokade Kuba masih menjadi perhatian global dan memicu solidaritas internasional. Para demonstran di Madrid melihat kebijakan ini sebagai pelanggaran kedaulatan dan hak asasi manusia, serta contoh intervensi AS yang merugikan negara lain.