Beirut, Lebanon – Amerika Serikat mengumumkan bahwa Lebanon dan Israel sepakat memperbarui gencatan senjata yang rapuh. Kesepakatan ini mencakup pembentukan 'zona keamanan percontohan' di dalam wilayah Lebanon yang melarang keras keberadaan milisi Hizbullah.
Kesepakatan ini bergantung pada 'penghentian total' serangan dari kelompok bersenjata yang didukung Iran itu. Hizbullah sendiri sudah lama masuk dalam daftar organisasi teroris oleh Israel, Inggris, dan AS. Pengumuman ini muncul setelah Lebanon dan Hizbullah menembakkan roket ke Israel utara, sementara serangan balasan Israel menewaskan sedikitnya sembilan orang di Lebanon selatan pada Rabu lalu.
Media Lebanon melaporkan, serangan Israel masih berlanjut hingga Kamis dengan satu serangan menimbulkan korban jiwa. Koresponden BBC, John Sudworth, melaporkan dari benteng Hizbullah di Dahieh, Beirut, bahwa gencatan senjata ini sangat rapuh karena kedua pihak masih saling serang.
Analisis Dampak: Kesepakatan ini menjadi angin segar di tengah eskalasi, namun para pengamat menilai zona aman tersebut sulit diterapkan. Hizbullah memiliki pengaruh kuat di Lebanon selatan, sehingga memastikan mereka benar-benar tidak ada di zona itu bakal menjadi tantangan besar. Jika salah satu pihak melanggar, konflik terbuka bisa pecah lagi kapan saja, mengancam warga sipil di perbatasan.